***
"Vik, apa kabar? Kok, seminggu ini nggak masuk sekolah? Kamu sakit? Batuk? Flu? Panas? Pusing? Kenapa? Aku khawatir", suara kaleng rombeng ini menusuk telingaku.
Aku hanya tersenyum. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hari ini sungguh melelahkan untuk mengeluarkan satu huruf. Tak ingin rasanya, aku bercerita pada siapapun. Hanya social media yang mampu menampung semua ceritaku. Aku kira, aku tak butuh teman apalagi bantuan. Setiap hari minimal 3 kali aku update status tentang kekesalanku ini. Aku lelah. Thank you my sosmed.
***
Malam yang sunyi tanpa keramaian. Tanpa senyuman keluarga. Kutuliskan perasaanku dalam status facebookku. Seperti biasa aku selalu melakukan ini.
Ada atau tidaknya kalian, sama saja. Nampak tapi tak berguna.
Tiba tiba seseorang mengirim chat padaku.
A : Hi Bray! Apa kamu sedang ada masalah? Aku punya sesuatu yang bisa
membuatmu bahagia.
B : Tidak apa - apa.
A : Temui aku besok di Taman Kota jika kamu ingin bahagia.
Pukul 08:00 aku ada di bangku depan kios ice cream, dekat tempat permainan anak. Aku benar benar bingung apa maksudnya. Sesuatu apa yang dapat membuat diriku bahagia? Benda apa itu? Butuh berpikir keras untuk itu. Apa yang harus kulakukan? Taman Kota? Ada apa di Taman Kota? Setahuku tidak ada acara di sana. Konser atau apalah itu. Aku yakin tidak ada. Apa yang dimaksud pria itu? Tanda tanya berkeliaran di kepalaku.
***
Kring kring
Hoamm. Tidurku penuh dengan pertanyaan. Rasanya, tidak cukup konsentrasi untuk tidur malam ini. Terimakasih besi beker. Tapi rasanya tubuh ini terlalu berat untuk dibawa. Dan badan ini masih menempel pada lengketnya selimut. Hingga aku akhirnya tersadar, seseorang menawariku untuk bertemu. Terjunlah aku dari kasur Barca yang nyaman ini. Mandi? Aku rasa tidak perlu.
Kukayuh pesawat ufoku, kencang sangat kencang. Seperti siput berlari. Kali ini mungkin aku akan ngambil cuti untuk sekolah. Aku akan ada meeting dengan client besar. Entah siapa nama clientku. Masuklah aku lewat pintu sebelah utara. Aku ditilang polisi wanita yang berdiri tegak tak berkedip.
"Maafkan Saya Bu Polwan, Saya tak bersalah. Saya tidak akan membolos sekolah lagi", ucapku sambil menunduk dan memejamkan mata karena takut menatap. Tapi tak ada secuil katapun yang polisi itu katakan. Kubuka mata ini perlahan, ternyata Gila! Polisi ini patung. Mungkin penyihir telah menyihirnya. Hii takut. Takut disihir juga jadi manusia tertampan di dunia. Abaikan ini! Abaikan penyihir. Tapi jangan abaikan ketampananku ini.
Kutemui pria yang duduk di depan kedai es krim tepat di dekat permainan anak anak seperti di Taman Kanak Kanak.
"Hai bro!", sapaku. Itu kata kata yang diucapkan banyak orang, yang menggambarkan brother atau saudara laki-laki. "Sudah aku duga kamu akan datang", ucap pria itu. Aku duduk 90 derajat dari posisi pria asing itu. "Pegang ini", pria ini menyuruhku. "Apa ini?", tanyaku heran. "Sudahlah, simpan dan gunakanlah! Kamu boleh mencoba dan yang ini gratis. Kalau kurang, hubungi aku lagi. Aku akan menyediakannya untukmu", bisik pria itu menawarkan. "Tidak ah", tolakku. "Percayalah padaku. Ini enak", balas pria itu.
"Akan ku coba nanti", kataku ragu ragu.
"Ya sudah bro, aku cabut dulu", pamit pria yang lupa kutanyakan siapa namanya.
Pria itu hilang dalam sekejap, seperti Datuk Lebay Karat di sinetron Tujuh Manusia Harimau.
Hari demi hari telah terlewati. Pada suatu waktu, Zahra menghampiriku. Dia mengatakan padaku jika sikapku berubah. Aneh dan menjadi aneh. Aku juga merasakan perubahan itu. Iya, permen ini mampu merubah suasana hatiku. Aku cukup dekat dengan pria asing itu. Galang. Itu namanya. Sekarang dia adalah teman dekatku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar