Kamu tau dikehadiranmu terakhir di tempat itu? Tidak begitu istimewa namun terasa berbeda. Dan keesokkan harinya alas kakimu tak terlihat dibawah tangga. Kamu tak terlihat diruangan pengap itu. Ruangan yg biasanya aku menjumpaimu duduk untuk menunggu waktu. Anehnya, berulang kali aku melihat sudut ruangan itu untuk mencari sosokmu. Dan hari itu aku benar - benar merasa, merasa ada suasana berbeda tanpamu. Aku percaya bahwa kamu melakukan yang namanya "izin". Tidak lama kemudian suara - suara merayap pada telingaku dan terdengar bahwa kamu takkan kembali ke tempat ini. Apa kamu tau? Entah kenapa ingin sedih namun tak tau kenapa harus bersedih. Lusa aku pergi dari tempat ini. Dan kamu mendahuluiku? Kau tak memberi tahuku atas ini. Padahal kita sedang berbincang via salah satu media sosial. Kamu pergi ke kota orang dan tak tau apa mungkin kita akan mengenal yang namanya "berjumpa"?
Apa kamu tau? Saat yang selalu aku nantikan saat pagi hari kamu menunggu giliran dengan rekan bekerjamu? Saat kamu tidak mengerjakan apa-apa. Itu yang selalu kutunggu. Menunggu kehadiranmu bergabung dengan kami. Tapi itu tak terjadi selama 2 hari terakhir aku penarikan.
Entah apa yang direncanakan Tuhan. Aku bersyukur kita dapat berkomunikasi, aku masih bisa melihat wajahmu dan menatap matamu meski tak langsung. Aku tak pernah berfikir untuk kita dapat bertemu langsung. Setiap kau mengunjungi kota ini, hati ini bergetar ingin rasanya bertemu. Hei. Tapi aku sadar, kita hanya sebatas-- ahsudahlah. Ada waktu dimana aku menunggu kabarmu, ingin menyapa namun gengsi ini lebih besar. Ini terasa lama. Hampir setiap hari kita bertatap wajah lewat social media. Aku di kota kita tercinta, kamu di kota peyeum. Kamu selalu menghubungiku lebih dulu. Ini cukup. Cukup membuatku lebih dari sekedar junior-senior.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar