Percayalah, kau orang pertama yang mengenalkanku dengan senja. Pertemuan awal yang baik, dan aku selalu merindukan menikmati jingganya langit bersamamu. Tak perlu jauh kemana untuk menenangkan. Di pantai ini ku tak ingin segera pergi. Entah apa yang membuatku nyaman. Apakah jingga yang memberi warna pada langit? Pohon yang melambai karena sentuhan angin? Atau angin sejuk yang meniup ombak? Apakah ombak yang bergulung bersahabat? Yang aku tahu tatapan matamu penuh keyakinan dan juga menghangatkan. Seperti mimpi berada di tempat ini berdua, iya. Hanya berdua. Ingin ku berteriak tapi tak mungkin. Apakah aku ingin mempermalukan diriku sendiri dengan berteriak dan mengatakan aku bahagia hari ini?
***
Sampai hari ini, aku percaya akan tatapanmu. Seharusnya aku sadar bahwa manis itu tak terbandingkan dengan asam yang tak kasat mata. Hal - hal kecil asam itulah yang membuatku berfikir bahwa kepercayaan matamu tak sebesar ketekadanmu dalam mengambil keputusan. Banyak hal - hal kecil yang kamu hiraukan, padahal itu sesuatu yang memutuskan aku untuk bertahan atau mundur. Apakah kamu amnesia soal waktu? Satu tahun kita kenal dan hanya sekedar teman pergi? Hanya. Teman. Pikiranku kembali bahwa kita hanya sebatas junior-senior.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar