kursor

Hetalia: Axis Powers - Norway

Selasa, 12 Desember 2017

Manisnya Obat

Film pendek ini mengingatkanku pada seorang gadis tanpa lesung pipi yang membuatku terjangkit diabetes karena senyum manisnya. Membuatku terjangkit penyakit jantung karena jantung ini berdetak kencang saat di dekatnya. Membuatku seperti stroke karena tubuh ini kaku gemetar dibuatnya. Membuatku selalu ingat akan hal terbodoh yang pernah kulakukan, lalu gadis itu mengobatiku dengan sentuhan  sentuhan foto yang mebuatku sadar jika aku pernah bahagia. Masa itu yang membuatku bahagia tanpa memikirkan apapun. Hanya mainan dan bermain yang bisa membuat asam lambungku naik. Tidak memikirkan seberapa sulitnya mengerjakan angka  - angka aljabar. Tidak memikirkan bagaimana cara nya menghitung kecepatan kelapa jatuh karena gravitasi. Atau menghitung aliran listrik yang nyatanya tak nampak. Hoamm. Ini sungguh sulit bagiku.

***
"Aku Viko, kamu siapa?", tanyaku heran pada gadis kecil bertanduk dua dengan boneka Pikachu menghiasi tanduknya. Dia lucu pikirku dalam hati.
"Aku baru datang dari Semarang, namaku Zahra", jawabnya dengan malu yang diselipkan senyuman manis pertamanya di hadapanku.

***
Kami selalu main bersama. Seragam merah putih kita lalui bersama. Biru putih kita terpisah. Karena nilaiku yang tak sanggup seimbang seperti tanduk cerdik itu, eh? Zahra yang kumaksud. Walaupun berbeda sekolah, kami tetap bermain bersama. Rumah kayu di belakang rumah Zahra itu markas kita. Markas yang dibuat Ayah Zahra saat kita berdua menangis karena tidak boleh bermain di luar rumah. Saat itu jalanan yang ramai. Padahal aku suka dengan jalanan. Dia mampu menampung banyaknya kendaraan dengan berbagai ukuran. Tidak pernah merasa terbebani. Walaupun terkadang jalanan itu bisa menjadi berbahaya untuk dilalui.

Di awal kelas 12 ini, aku senang bisa satu kelas dengan Zahra. Apa yang aku katakan? Senang? Senang ini berbeda. Apa ini? Tidak mungkin. Kita bersahabat sejak kecil dan itu tetap sahabat. Selama ini aku merasa bahagia sebelum masalah ini datang. Perusahaan Ayah bangkrut. Uang Ayah habis untuk membayar semua hutang  hutang perusahaan. Rumah kami pun disita bank. Hingga akhirnya kami pindah rumah, rumah yang lebih mungil dari sebelumnya. Rumah ini berantakan. Bukan karena berantakan tata letak benda ataupun debu dimana  mana. Penduduknya yang berantakan. Bunda selalu berteriak setiap harinya. Sampai 2 jam bunda bisa marah  marah dan paling sedikitnya 9 kali dalam sehari. Oh My God, suara itu membuatku tidak konsentrasi untuk belajar.

"Kenapa sih, Ayah tidak mencoba mencari pekerjaan? Bagaimana akan makan enak sehari - hari? Belanja, pergi ke salon, spa. Kebutuhan Bunda banyak, Yah. Kesenangan istri kan kesenangan ayah juga. Kalau bunda cantik, Ayah juga kan yang senang?" celoteh Bunda tak ada habisnya.
"Membuat bisnis kecil  kecilan, atau mencari hutangan di teman ayah atau bagaimana lah, yang penting Bunda bisa membeli baju untuk arisan ibu - ibu besok", omelan Bunda yang terus berlanjut dan berisik seperti iringan barongsai.
"Sabar Bun, Ayah juga lagi usaha", terang Ayah lirih.
"Kalau Anda tidak sanggup mencukupi kebutuhan kita semua, bilang saja! Saya minta cerai!", seketika panggilan ayah bunda menjadi anda saya.

Bunda langsung masuk kamar untuk membereskan semua bajunya dan keluar dari gubuk ini. Apa daya seorang anak kecil seperti aku dengan masalah seperti ini. Hanya bisa mengintip dari lubang kecil di pintu kamarku. Toh aku tidak terlalu peduli dengan angin ribut seperti ini. Aku hanya butuh kenyamanan. Aku memang seorang anak yang tidak terlalu peduli dengan masalah keluarga. Aku memang jahat, tapi setidaknya aku tidak meninggalkan Ayah seperti yang Bunda lakukan.

Zahra? Aku rindu padanya. Tak ada yang bisa membuat hati ini tenang. Seharusnya dia ada di sini menemaniku. Ini salahku. Aku tidak memberitahukan atas kepindahanku padanya. Aku malu atas kekacauan ini. Karena itu aku absen selama seminggu untuk menenangkan diri. Ayah pun menyetujui absenku, Ayah mengerti keadaanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar