kursor

Hetalia: Axis Powers - Norway

Rabu, 20 Desember 2017

Organisasi Difabel Nasional Dirintis di UIN Sunan Kalijaga

Selasa, 19 Desember 2017 15:03:54 WIB Dilihat : 13 kali


Pemukulan Gong oleh international office Alicante University menandai Launching INDOEDUC4ALL
Semangat perjuangan yang selama ini telah dilakukan pegiat difabilitas, mulai dari ratifikasiConvention on the Rights of Persons with Disabilities(CRPD) menjadi UU Nomor 8 tahun 2016, sampai berlangsungnya proses penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) merupakan langkah besar. Langkah besar ini tentunya juga memperbesar peluang yang memungkinkan terciptanya pendidikan inklusif di Perguruan Tinggi. Untuk memantapkan perjuangan itu, beberapa perguruan tinggi yang respek terhadap pendidikan difabel seperti UIN Sunan Kalijaga, UII, UIN Syarief Hidayatullah, IAIN Solo, Universitas Surabaya, Universitas Indonesia, Alicante University Spanyol, didukung Dirjen Pendidikan Tinggi sedang merintis berdirinya organisasi difabel nasional di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kepentingan itu, diselenggarakan Konferensi Nasional bertajuk “Ensuring Access and Quality Education for Students with Disabilities in Indonesian Universitiesdan Launching Program INDOEDUC4ALL,di gedung RHA. Soenarjo, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (14/12).
Mantan ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga, yang saat ini masih aktif (turut) mengembangkan keberadaan PLD, Dr. Rof’ah ditemui di sela-sela acara menyampaikan, dirintisnya organisasi difabel nasional dan dilaunchingnya program INDOEDUC4ALL di kampus UIN Sunan Kalijaga, tentunya memberikan semangat tersendiri untuk membenahi pendidikan di Perguruan Tinggi agar memberikan akses yang sama terhadap mahasiswa difabel. Hal ini menjadi modal bagi keberlangsungan perjuangan para organisasi difabel dalam mengawal kebijakan pemerintah, khususnya di wilayah pendidikan.
Ia mencontohkan bagaimana peran organisasi difabel dalam menterjemahkan atau memahami impelementasi pendidikan inklusi. Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK,) Sekolah Dasar (SD,) Sekolah Menengah Pertama (SMP,) Sekolah Menengah Atas (SMA,) sampai Perguruan Tinggi. Mendetailkan teknis pelaksanaan dari poin-pon yang ada di dalam CRPD dan UU Penyandang Disabilitas.
“Mulai dari apa yang harus dilakukan, seperti assisstive teknologi apa yang harus ada, kemudian pentingnya unit difabilitas di semua pelayanan pendidikan, ketersedian sarana dan prasarana itu menjadi penting kunci sukses pendidikan inklusi,” sambung Ro’fah.
Menurut Rof’ah, di kampus UIN Sunan Kalijaga, sebelum berdirinya PLD para mahasiswa telah aktif memberi pendampingan kepada para mahasiswa difabel. Karena memang sejak dulu kampus ini telah menerima difabel untuk bisa studi lanjut. Dengan Lahirnya PLD, kampus ini lebih bisa melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya. Lebih-lebih lagi dengan adanya dukungan dari Dirjen Dikti dan University of Alicante, Spanyol, diharapkan akan bisa segera didirikan organisasi difabel nasional yang akan memayungi berbagai PLD yang ada di kampus-kampus di Indonesia ini. University of Alicante, Spanyol memberikan dukungannya melalui program bernamaINDOEDUC4ALLyang akan berjalan sampai tiga tahun kedepan.Di mana Alicante sebagai koordinator menggandeng enam universitas di Indonesia untuk menjadi agen dari program tersebut. Ke-enamnya adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Surabaya, dan IAIN Surakarta.
Luis Gomez de Membrillera Desantes selakuInternational Officedari Universitas Alicante menjelaskan, Program tersebut dibentuk melihat optimisme dari progres yang ditunjukkan berbagai universitas di Indonesia, baik dalam membentuk layanan dan komitmen terhadap isu difabilitas. Melalui program INDOEDUC4ALL menurutnya, bisa memodernisasikanassisstive tekhnologiatau alat bantu teknologi bagi difabel di setiap universitas.
“Selain dari upaya penyadaran akses pendidikan untuk difabel yang kondisinya juga sama seperti di Alicante. Pada forum ini, program INDOEDUC4ALL saya launching,” tambah Luis.
Selain mengenalkan programINDOEDUC4ALL, Universitas Alicante melalui Direktur Unit Layanan Mahasiswa Difabel, Pepi Parreno menjelaskan kerja-kerja yang sudah dilakukan di universitas asal Spanyol tersebut. Kerja-kerja tersebut menurutnya tidak berbeda dengan apa yang juga dilakukan Pusat Layanan Difabel (PLD) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lebih jauh, Pepi selaku kepala Unit layanan menjelaskan, PLD di Universitas Alicante yang sudah berdiri 17 tahun lalu, berada di bawah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Ketenagakerjaan Universitas Alicante.
Terkait struktur unit layanannya yang diketuai Pepi sendiri, terdapat empat pekerja sosial, di mana salah satunya merupakan seorang sosialog. Selain itu ada dua ahli psikolog dan satu ahli seksolog yang berasal dari sumberdaya eksternal unit layanan. Sedangkan di dalam internal, ada satu orang yang ahli di bidangassisstive tekhnologiatau teknologi bantu untuk difabel.
Pepi juga menjelaskan tujuan dari unit layanan yang dikawalnya untuk menjamin partisipasi penuh dari mahasiswa difabel dengan prinsip kesamaan kesempatan dan aksesibilitas universal. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam setiap pengadaan program-program, serta ruang aspirasi dan menjadi pegangan dalam menjalankan misi penyadaran terhadap masyarakat kampus Alicante dalam memahami difabilitas.
Adapun kerja-kerja yang dilakukan yakni mengindentifikasi kebutuhan mahasiswa difabel, dan memberikan masukan sekaligus membuka layanan konseling. Kemudian membangun rencana aksi terkait program-proram yang akan dilaksanakan ke depan, membimbing dan memberi panduan kepada para dosen bagaimana melakukan adaptasi terhadap pembelajaran. “Sekaligus membuka layanan bagi keduanya,” terang Pepi.
Menurut Pepi, rencana aksi yang sedang berjalan di Alicante. Seperti mengidentifikasi dan mengorganisir mahasiswa difabel yang mau disebut difabel. Sebab menurutnya, tidak semua mahasiswa difabel mengakui kedifabelannya. Mereka juga mengajukan modifikasi tes, ujian dan membuat proposal untuk mengubah mekasnisme pembelajaran yang selama ini belum mengakomodir. Selain itu menginformasikan kepada mahasiswa pentingnya memiliki sertifikat difabilitas dalam workshop atau diskusi tentang difabilitas.
“Dan menjembatani lulusan mahasiswa difabel untuk masuk ke dunia kerja,” lanjut Pepi. Sedangkan dari aspek kerelawanan, ia mengorganisir relawan baik yang diberikan kepada orgnasisasi difabel di sekitarnya yang membutuhkan dan sebaliknya. Unit layanannya menerima relawan dari organisasi difabel. Di samping itu, juga mengadakan pelatihan kerelawanan.
Bagi Pepi, kerja-kerja unit layanan tidak berbeda dengan unit PLD di UIN Sunan Kalijaga. Kehadirannya dalam program yang akan mengajak enam universitas di Indonesia, untuk sama-sama belajar bagaimana menentukan strategi dalam memberikan layanan bagi mahasiswa difabel.
Arif Maftukhin, M.Si., ketua PLD UIN Sunan Kalijaga menjelaskan, untuk menuju kampus inklusi tidak hanya adanya unit layanan. Lebih dari itu, semua masyarakat kampus mulai dari dosen, mahasiswa, dan birokrasi turut serta mengusung dan mendorong kemudahan fasilitas dan pelayanan difabilitas dalam pendidikan inklusi. Dengan adanya program INDOEDUC4ALL dan support 6 PT lain, serta dukungan Dirjen Dikti yang pada forum ini diwakili oelh Rektor Universitas Lambung Mangkurat, pihaknya berharap, akses studi lanjut difabel di Indonesia ke PT semakin terbuka luas.
Rektor Universita Lambung Mangkurat menambahkan, Ke depan akan semakin banyak PT yang menyediakan kursi bagi para difabel. Hal itu telah diamanatkan dalam UU No. 8 Tahun 2016. Dunia kerja juga harus menyediakan porsi untuk lulusan difabel. Dengan prosentasi 100 formasi lapangan pekerjaan, 1 orang diantaranya untuk difabel. Hal ini berlaku untuk instansi pemerintah, perusahaan maupun lembaga swasta. Aturan ini belum banyak yang mengetahui, sehingga perlu terus disosialisasikan agar UU tak sekedar diwajibkan untuk lembaga pemerintah, tapi terimplementasi ke semua lapangan pekerjaan, dengan memberi kemudahan fasilitas untuk tenaga kerja difabel.
Pada forum ini, PLD UIN Sunan Kalijaga memberikan anugerah inklusi kepada beberapa orang relawan, yang telah berkontribusi, berdedikasi dan berkomitmen tak ternilai sejak berdirinya PLD UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang, yakni: Kasman Ibnu (Relawan sebelum ada PLD dan ikut merintis berdirinya PLD), Aslamah dan Ragil Ristiyanti (text:Weni H/ Foto: Doni TW-Humas).

Rabu, 13 Desember 2017

GAYA HIDUP REMAJA DI ZAMAN SEKARANG


Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang menggambarkan seberapa besar nilai moralorang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya dan bagaimana cara orang tersebut hidup. Sebagian besar remaja zaman sekarang itu menyalahgunakan gaya hidupnya, apalagi remaja-remaja yang hidup di kota metropolitan. Dan bukan hanya orang-orang di kota metropolitan saja yang mengikuti trend mode di zaman sekarang dahkan di perkampungan dan pedesaan pun banyak yang mengikutinya selagi mereka menanggapi hal itu dengan negatif.
Remaja zaman kini itu selalu dikaitkan dengan teknologi. Banyak di sekitar kita wanita yang memakai celana pendek di depan umum yang di ajarkan dalam ajaran islam yaitu harus menutup aurat kecuali telapak tangan dan muka bagi seorang wanita yang beragama islam.

Sebagian besar mereka lebih mengikuti trendmode di masa kini, seperti contohnya berpakain seperti orang luar negeri dan bergaya kebarat-baratan. Yang kita tahu bahwa trend mode yang ada di luar negeri itu menyimpang moral. Sedangkan Negara Indonesia terkenal dengan kesopanan dan budi luhurnya. Kalau kita menanggapi hal ini dengan negatif maka akan berdampak negatif juga untuk penerus kita selanjutnya.

Contoh yang dilakukan orang luar negeri seperti bermabuk-mabukan bahkan banyak remaja terutama kaum adam di zaman sekarang yang sudah minum-minuman keras bahkan narkoba. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang tersebut maka ia akan dinilai sebagai remaja yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Ini salah satu contoh yang salah atau tidak baik, karena kalau mereka mengkonsumsi barang-barang haram tersebut bias merusak kesehatan mereka apalagi mereka dalam tahap perkembangan terutama bagi pengguna narkoba, dampak negative dari penggunaan narkoba adalah dapat mengalami gangguan syaraf pada otak yang tidak berjalan sempurna dapat mengalami gangguan mental.

Untuk itu di zaman yang serba modern ini, mari kita sebagai penerus bangsa Indonesia harus memajukan bangsa terutama dalam kebudayaan karena Negara Indonesia yang terkenal akan kayanya kebudayaan. Hindari hal-hal yang berdampak negatif, boleh kita mengikuti gaya kebarat-baratan asalkan itu mengandung nilai yang positif.https://www.kompasiana.com/idarukmanah/gaya-hidup-remaja-di-zaman-sekarang_54f7a02fa33311747a8b48b9

–– ADVERTISEMENT ––

Selasa, 12 Desember 2017

***
Aku sering absen sekarang. Tapi pada Ayah aku pamit pergi ke sekolah. Hanya sekedar teriak "Aku sekolah", intinya itu berpamitan.
Sepulang sekolah, pulang main tepatnya, Ayah tiba  tiba naik darah.
"Sejak kapan sekolahmu pindah?" tanya Ayah membentak.
"Pindah bagaimana?" tanyaku jutek.
"Sejak kapan sekolamu di Jalan Indrakila?" curiga Ayah yang padahal sekolahku jauh dari Jalan Indrakila.
"Apa sih!" kataku kesal.
"Ayah lihat sendiri", jelas ayah singkat.
"Ayah melihatmu saat ayah menarik angkot lewat Jalan Tentara Pelajar. Kamu masuk ke Jalan Indrakila", Ayah meneruskan.
"Ayah tidak suka anak ayah bolos sekolah."
"Apa urusannya dengan Ayah? Sejak kapan Ayah peduli dengan Viko? Banyak sarjana di luar sana jadi pengangguran. Apa untungnya sekolah tinggi  tinggi kalau akhirnya pengangguran juga. Apa Ayah tahu? Uang sekolahku belum Ayah bayar. Aku diskors! Ayah puas?" ucapku tak terkendali.
Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu kamar dengan keras. Rasa kesal menimpa. Bisa cepat tua kalau begini terus menerus. Sial!

Apakah Bob Marley bicara padaku? Tidak. Tidak hanya Bob Marley yang bicara padaku. Semua poster itu bicara padaku. Tidak tidak. Tidak hanya poster, lampion itu mengejekku. Benda - benda di kamar sudah gila. Dunia ini sudah gila. Ternyata aku sedang mengalami perjalanan 12 jam, akibat permen bermerk LSD ini.
Lampion? Aku ingat sesuatu tentang lampion itu. Iya, aku ingat. Lampion itu? Lampion itu kutemukan 3 hari yang lalu, di dalam kardus dengan sebuah kaset DVD di depan rumah. Aku play video itu, ternyata seorang gadis manis tanpa lesung pipi terdapat dalam video tersebut. Manis. Senyum dan hatinya. Aku tak menyangka bahwa ada juga seorang gadis yang diam  diam jatuh cinta padaku. Aku sosok pria yang absurd, berantakan, dan tak jelas jalan hidupnya. Dalam video itu berisi Zahra mengungkapkan perasaannya padaku. Dan sejujurnya aku pun mempunyai rasa yang sama. Video itu juga berisi pengakuan atas semua yang Zahra ketahui. Diam  diam juga Zahra tahu bahwa aku pengguna narkoba. Tapi aku sadar dibalik hidupku yang berantakan ada seseorang yang menginginkanku lebih baik, dan siap merubahku menjadi lebih baik. Zahra mengatakan bahwa narkoba itu terlarang dalam hukum dan agama. Dia juga mengatakan jika keluarga adalah yang utama.
Hidup bahagia cukup berada disekitar orang  orang tersayang. Hidup itu bagaikan sayur. Benda  benda seperti LSD itu bagaikan MSG. Sayur tanpa MSG memang kurang sedap, tapi menyehatkan. Begitu pula hidup. Sekarang aku putuskan untuk menjauhi permen setan itu. Dan akan mencoba memperbaiki hubunganku dengan kedua orang tuaku, walaupun Bunda benar  benar ingin berpisah dengan Ayah. Mereka adalah kebahagiaanku. Dan kamu, Zahra. Terimakasih telah mengobatiku. Terimakasih untuk semuanya.

Manisnya Obat (2)

***
"Vik, apa kabar? Kok, seminggu ini nggak masuk sekolah? Kamu sakit? Batuk? Flu? Panas? Pusing? Kenapa? Aku khawatir", suara kaleng rombeng ini menusuk telingaku.
Aku hanya tersenyum. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hari ini sungguh melelahkan untuk mengeluarkan satu huruf. Tak ingin rasanya, aku bercerita pada siapapun. Hanya social media yang mampu menampung semua ceritaku. Aku kira, aku tak butuh teman apalagi bantuan. Setiap hari minimal 3 kali aku update status tentang kekesalanku ini. Aku lelah. Thank you my sosmed.
***
Malam yang sunyi tanpa keramaian. Tanpa senyuman keluarga. Kutuliskan perasaanku dalam status facebookku. Seperti biasa aku selalu melakukan ini.

Ada atau tidaknya kalian, sama saja. Nampak tapi tak berguna.

Tiba  tiba seseorang mengirim chat padaku.
A : Hi Bray! Apa kamu sedang ada masalah? Aku punya sesuatu yang bisa
membuatmu bahagia.
B : Tidak apa - apa.
A : Temui aku besok di Taman Kota jika kamu ingin bahagia.

Pukul 08:00 aku ada di bangku depan kios ice cream, dekat tempat permainan anak. Aku benar  benar bingung apa maksudnya. Sesuatu apa yang dapat membuat diriku bahagia? Benda apa itu? Butuh berpikir keras untuk itu. Apa yang harus kulakukan? Taman Kota? Ada apa di Taman Kota? Setahuku tidak ada acara di sana. Konser atau apalah itu. Aku yakin tidak ada. Apa yang dimaksud pria itu? Tanda tanya berkeliaran di kepalaku.

***
Kring kring
Hoamm. Tidurku penuh dengan pertanyaan. Rasanya, tidak cukup konsentrasi untuk tidur malam ini. Terimakasih besi beker. Tapi rasanya tubuh ini terlalu berat untuk dibawa. Dan badan ini masih menempel pada lengketnya selimut. Hingga aku akhirnya tersadar, seseorang menawariku untuk bertemu. Terjunlah aku dari kasur Barca yang nyaman ini. Mandi? Aku rasa tidak perlu.
Kukayuh pesawat ufoku, kencang sangat kencang. Seperti siput berlari. Kali ini mungkin aku akan ngambil cuti untuk sekolah. Aku akan ada meeting dengan client besar. Entah siapa nama clientku. Masuklah aku lewat pintu sebelah utara. Aku ditilang polisi wanita yang berdiri tegak tak berkedip.
"Maafkan Saya Bu Polwan, Saya tak bersalah. Saya tidak akan membolos sekolah lagi", ucapku sambil menunduk dan memejamkan mata karena takut menatap. Tapi tak ada secuil katapun yang polisi itu katakan. Kubuka mata ini perlahan, ternyata Gila! Polisi ini patung. Mungkin penyihir telah menyihirnya. Hii takut. Takut disihir juga jadi manusia tertampan di dunia. Abaikan ini! Abaikan penyihir. Tapi jangan abaikan ketampananku ini.

Kutemui pria yang duduk di depan kedai es krim tepat di dekat permainan anak  anak seperti di Taman Kanak  Kanak.
"Hai bro!", sapaku. Itu kata  kata yang diucapkan banyak orang, yang menggambarkan brother atau saudara laki-laki. "Sudah aku duga kamu akan datang", ucap pria itu. Aku duduk 90 derajat dari posisi pria asing itu. "Pegang ini", pria ini menyuruhku. "Apa ini?", tanyaku heran. "Sudahlah, simpan dan gunakanlah! Kamu boleh mencoba dan yang ini gratis. Kalau kurang, hubungi aku lagi. Aku akan menyediakannya untukmu", bisik pria itu menawarkan. "Tidak ah", tolakku. "Percayalah padaku. Ini enak", balas pria itu.
"Akan ku coba nanti", kataku ragu  ragu.
"Ya sudah bro, aku cabut dulu", pamit pria yang lupa kutanyakan siapa namanya.
Pria itu hilang dalam sekejap, seperti Datuk Lebay Karat di sinetron Tujuh Manusia Harimau.

Hari demi hari telah terlewati. Pada suatu waktu, Zahra menghampiriku. Dia mengatakan padaku jika sikapku berubah. Aneh dan menjadi aneh. Aku juga merasakan perubahan itu. Iya, permen ini mampu merubah suasana hatiku. Aku cukup dekat dengan pria asing itu. Galang. Itu namanya. Sekarang dia adalah teman dekatku.
***

Manisnya Obat

Film pendek ini mengingatkanku pada seorang gadis tanpa lesung pipi yang membuatku terjangkit diabetes karena senyum manisnya. Membuatku terjangkit penyakit jantung karena jantung ini berdetak kencang saat di dekatnya. Membuatku seperti stroke karena tubuh ini kaku gemetar dibuatnya. Membuatku selalu ingat akan hal terbodoh yang pernah kulakukan, lalu gadis itu mengobatiku dengan sentuhan  sentuhan foto yang mebuatku sadar jika aku pernah bahagia. Masa itu yang membuatku bahagia tanpa memikirkan apapun. Hanya mainan dan bermain yang bisa membuat asam lambungku naik. Tidak memikirkan seberapa sulitnya mengerjakan angka  - angka aljabar. Tidak memikirkan bagaimana cara nya menghitung kecepatan kelapa jatuh karena gravitasi. Atau menghitung aliran listrik yang nyatanya tak nampak. Hoamm. Ini sungguh sulit bagiku.

***
"Aku Viko, kamu siapa?", tanyaku heran pada gadis kecil bertanduk dua dengan boneka Pikachu menghiasi tanduknya. Dia lucu pikirku dalam hati.
"Aku baru datang dari Semarang, namaku Zahra", jawabnya dengan malu yang diselipkan senyuman manis pertamanya di hadapanku.

***
Kami selalu main bersama. Seragam merah putih kita lalui bersama. Biru putih kita terpisah. Karena nilaiku yang tak sanggup seimbang seperti tanduk cerdik itu, eh? Zahra yang kumaksud. Walaupun berbeda sekolah, kami tetap bermain bersama. Rumah kayu di belakang rumah Zahra itu markas kita. Markas yang dibuat Ayah Zahra saat kita berdua menangis karena tidak boleh bermain di luar rumah. Saat itu jalanan yang ramai. Padahal aku suka dengan jalanan. Dia mampu menampung banyaknya kendaraan dengan berbagai ukuran. Tidak pernah merasa terbebani. Walaupun terkadang jalanan itu bisa menjadi berbahaya untuk dilalui.

Di awal kelas 12 ini, aku senang bisa satu kelas dengan Zahra. Apa yang aku katakan? Senang? Senang ini berbeda. Apa ini? Tidak mungkin. Kita bersahabat sejak kecil dan itu tetap sahabat. Selama ini aku merasa bahagia sebelum masalah ini datang. Perusahaan Ayah bangkrut. Uang Ayah habis untuk membayar semua hutang  hutang perusahaan. Rumah kami pun disita bank. Hingga akhirnya kami pindah rumah, rumah yang lebih mungil dari sebelumnya. Rumah ini berantakan. Bukan karena berantakan tata letak benda ataupun debu dimana  mana. Penduduknya yang berantakan. Bunda selalu berteriak setiap harinya. Sampai 2 jam bunda bisa marah  marah dan paling sedikitnya 9 kali dalam sehari. Oh My God, suara itu membuatku tidak konsentrasi untuk belajar.

"Kenapa sih, Ayah tidak mencoba mencari pekerjaan? Bagaimana akan makan enak sehari - hari? Belanja, pergi ke salon, spa. Kebutuhan Bunda banyak, Yah. Kesenangan istri kan kesenangan ayah juga. Kalau bunda cantik, Ayah juga kan yang senang?" celoteh Bunda tak ada habisnya.
"Membuat bisnis kecil  kecilan, atau mencari hutangan di teman ayah atau bagaimana lah, yang penting Bunda bisa membeli baju untuk arisan ibu - ibu besok", omelan Bunda yang terus berlanjut dan berisik seperti iringan barongsai.
"Sabar Bun, Ayah juga lagi usaha", terang Ayah lirih.
"Kalau Anda tidak sanggup mencukupi kebutuhan kita semua, bilang saja! Saya minta cerai!", seketika panggilan ayah bunda menjadi anda saya.

Bunda langsung masuk kamar untuk membereskan semua bajunya dan keluar dari gubuk ini. Apa daya seorang anak kecil seperti aku dengan masalah seperti ini. Hanya bisa mengintip dari lubang kecil di pintu kamarku. Toh aku tidak terlalu peduli dengan angin ribut seperti ini. Aku hanya butuh kenyamanan. Aku memang seorang anak yang tidak terlalu peduli dengan masalah keluarga. Aku memang jahat, tapi setidaknya aku tidak meninggalkan Ayah seperti yang Bunda lakukan.

Zahra? Aku rindu padanya. Tak ada yang bisa membuat hati ini tenang. Seharusnya dia ada di sini menemaniku. Ini salahku. Aku tidak memberitahukan atas kepindahanku padanya. Aku malu atas kekacauan ini. Karena itu aku absen selama seminggu untuk menenangkan diri. Ayah pun menyetujui absenku, Ayah mengerti keadaanku.

Merayap Hilang (3)

Percayalah, kau orang pertama yang mengenalkanku dengan senja. Pertemuan awal yang baik, dan aku selalu merindukan menikmati jingganya langit bersamamu. Tak perlu jauh kemana untuk menenangkan. Di pantai ini ku tak ingin segera pergi. Entah apa yang membuatku nyaman. Apakah jingga yang memberi warna pada langit? Pohon yang melambai karena sentuhan angin? Atau angin sejuk yang meniup ombak? Apakah ombak yang bergulung bersahabat? Yang aku tahu tatapan matamu penuh keyakinan dan juga menghangatkan. Seperti mimpi berada di tempat ini berdua, iya. Hanya berdua. Ingin ku berteriak tapi tak mungkin. Apakah aku ingin mempermalukan diriku sendiri dengan berteriak dan mengatakan aku bahagia hari ini?
***
Sampai hari ini, aku percaya akan tatapanmu. Seharusnya aku sadar bahwa manis itu tak terbandingkan dengan asam yang tak kasat mata. Hal - hal kecil asam itulah yang membuatku berfikir bahwa kepercayaan matamu tak sebesar ketekadanmu dalam mengambil keputusan. Banyak hal - hal kecil yang kamu hiraukan, padahal itu sesuatu yang memutuskan aku untuk bertahan atau mundur. Apakah kamu amnesia soal waktu? Satu tahun kita kenal dan hanya sekedar teman pergi? Hanya. Teman. Pikiranku kembali bahwa kita hanya sebatas junior-senior.

Senin, 11 Desember 2017

Merayap Hilang (2)

Allah berencana lain, kamu kembali pada kota ini. Kita bertemu satu, dua, tiga, empat kali. Pertemuan singkat yang berarti, menurutku. Kamera sama sekali tak mendokumentasi saat berharga ini. Apa kamu tau apa yang ada dipikiranku, setiap kali aku akan bertemu dirimu? Aku selalu berpikir, nanti aku akan mengabadikan pertemuan ini. Tapi saat bertemu aku tak berpikir untuk mengabadikannya. Karena aku ingin pertemuan kita tak hanya terekam kamera. Aku ingin pertemuan ini terekam nyata di hati masing - masing. Setelah kesekian pertemuan, kamera membidik wajah kita. Akhirnya kupunya foto pertama denganmu. Karena saat pelepasan beberapa bulan yang lalu, kau pergi dulu ke kota orang tanpa kutahu. Aku hanya berfoto dengan mereka yang masih di tempat magangku. Mereka yang berjasa atas 3 bulanku disana. Sungguh ku suka pertemuan ini. Beberapa bulan ini menjadi kesenanganku di tahun ini. Kau suka mi ayam? Setiap usai pertemuan kita ditutup dengan makan mi taburan ayam itu. Dimanapun tempatnya, kau selalu memesan mi ayam dan aku bakso. Kenapa ku memilih bakso? Karena kusadar aku takkan pernah bisa menghabiskan satu mangkok mi ayam yang porsinya jauh lebih banyak dibanding bakso. Dan yang jelas, aku tak mau jadi pesaingmu dalam hal makanan.

***

Terlalu lama otak tidak terpakai untuk berfikir keras, karena ujian nasional sudah lewat sebulan. Harusnya aku berfikir, mana mungkin seseorang akan menunggu waktu selama itu. Perbedaan umur kami sangat jauh. Terlihat aneh kebanyakan teman - temanku bilang. Apa aku berfikir atas itu? Tidak sama sekali. Tak terselip pikiran tentang itu ataupun pikiran buruk lainnya. Aku pun tak menyangkal ucapan teman - temanku, karna itu benar. Tapi percayalah, pikiranku tak sependek itu.
Sekarang kau menghilang tanpa kabar. Apa aku boleh berprasangka  terhadapmu?