***
Aku sering absen sekarang. Tapi pada Ayah aku pamit pergi ke sekolah. Hanya sekedar teriak "Aku sekolah", intinya itu berpamitan.
Sepulang sekolah, pulang main tepatnya, Ayah tiba tiba naik darah.
"Sejak kapan sekolahmu pindah?" tanya Ayah membentak.
"Pindah bagaimana?" tanyaku jutek.
"Sejak kapan sekolamu di Jalan Indrakila?" curiga Ayah yang padahal sekolahku jauh dari Jalan Indrakila.
"Apa sih!" kataku kesal.
"Ayah lihat sendiri", jelas ayah singkat.
"Ayah melihatmu saat ayah menarik angkot lewat Jalan Tentara Pelajar. Kamu masuk ke Jalan Indrakila", Ayah meneruskan.
"Ayah tidak suka anak ayah bolos sekolah."
"Apa urusannya dengan Ayah? Sejak kapan Ayah peduli dengan Viko? Banyak sarjana di luar sana jadi pengangguran. Apa untungnya sekolah tinggi tinggi kalau akhirnya pengangguran juga. Apa Ayah tahu? Uang sekolahku belum Ayah bayar. Aku diskors! Ayah puas?" ucapku tak terkendali.
Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu kamar dengan keras. Rasa kesal menimpa. Bisa cepat tua kalau begini terus menerus. Sial!
Apakah Bob Marley bicara padaku? Tidak. Tidak hanya Bob Marley yang bicara padaku. Semua poster itu bicara padaku. Tidak tidak. Tidak hanya poster, lampion itu mengejekku. Benda - benda di kamar sudah gila. Dunia ini sudah gila. Ternyata aku sedang mengalami perjalanan 12 jam, akibat permen bermerk LSD ini.
Lampion? Aku ingat sesuatu tentang lampion itu. Iya, aku ingat. Lampion itu? Lampion itu kutemukan 3 hari yang lalu, di dalam kardus dengan sebuah kaset DVD di depan rumah. Aku play video itu, ternyata seorang gadis manis tanpa lesung pipi terdapat dalam video tersebut. Manis. Senyum dan hatinya. Aku tak menyangka bahwa ada juga seorang gadis yang diam diam jatuh cinta padaku. Aku sosok pria yang absurd, berantakan, dan tak jelas jalan hidupnya. Dalam video itu berisi Zahra mengungkapkan perasaannya padaku. Dan sejujurnya aku pun mempunyai rasa yang sama. Video itu juga berisi pengakuan atas semua yang Zahra ketahui. Diam diam juga Zahra tahu bahwa aku pengguna narkoba. Tapi aku sadar dibalik hidupku yang berantakan ada seseorang yang menginginkanku lebih baik, dan siap merubahku menjadi lebih baik. Zahra mengatakan bahwa narkoba itu terlarang dalam hukum dan agama. Dia juga mengatakan jika keluarga adalah yang utama.
Hidup bahagia cukup berada disekitar orang orang tersayang. Hidup itu bagaikan sayur. Benda benda seperti LSD itu bagaikan MSG. Sayur tanpa MSG memang kurang sedap, tapi menyehatkan. Begitu pula hidup. Sekarang aku putuskan untuk menjauhi permen setan itu. Dan akan mencoba memperbaiki hubunganku dengan kedua orang tuaku, walaupun Bunda benar benar ingin berpisah dengan Ayah. Mereka adalah kebahagiaanku. Dan kamu, Zahra. Terimakasih telah mengobatiku. Terimakasih untuk semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar